Kamis, 23 Februari 2012

memahami skala likert

Model Skala
Dalam penelitian sosial yang menggunakan data primer dan bersifat kualitatif, sebagian besar menggunakan model skala dalam penyusunan kuesionernya. Hal ini bertujuan agar variabel-variabel sosial yang bersifat abstrak (sulit diamati ukurannya secara langsung) dapat diukur dengan baik melalui pendekatan-pendekatan tertentu berdasarkan teori. Contoh penelitian yang menggunakan kuesioner model skala ini adalah penelitian mengenai sikap, persepsi, keadaan/kondisi dan sebagainya yang dirasa sulit untuk diamati secara kasat mata. Model skala yang digunakan adalah skala Likert, skala Guttman, skala diferensial semantik, skala Thurstone, dan rating skala. Saya akan fokus menjelaskan tentang skala Likert karena skala ini yang biasanya digunakan dan lebih mudah pemahamannya dibanding skala-skala yang lain (menurut saya), tapi saya akan mencoba menjelaskan model skala yang lain secara singkat.

Skala Guttman, skala ini hanya memberikan dua pilihan jawaban, seperti ya dan tidak, atau benar dan salah. Data yang diperoleh berupa data interval dan rasio. Biasanya peneliti menggunakan skala Guttman apabila ingin mendapatkan jawaban yang tegas dan konsisten terhadap permasalahan yang menjadi fokus dalam penelitian. Skala diferensial semantik ini agak berbeda dengan model skala yang lain. Skala ini menyusun jawaban dalam satu garis dimana jawaban yang positif terletak dikanan garis dan jawaban negatif terletak di kiri garis. Jadi, skala ini memiliki dua kutub yang berlawanan. Rating skala adalah skala dengan beberapa kategori respons yang menilai sebuah objek pada suatu skala. Skala thurstone adalah skala yang meminta responden memilih pernyataan yang paling sesuai dengan keadaannya dari banyak pernyataan yang memiliki pandangan yang berbeda-beda. Sedangkan skala Likert biasanya digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi terhadap suatu fenomena, dimana setiap pernyataan harus dijawab sesuai dengan pilihan yang telah disediakan dan mempunyai skor masing-masing. 

Skala Likert
Variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel kemudian dari indikator-indikator tersebut dijadikan dasar untuk menyusun item-item pernyataan. Mudahnya, bentuk tabel kisi-kisi instrument yang terdiri dari variabel, indikator, dan item pernyataan-pernyataan. Satu variabel biasanya terdiri dari beberapa indikator yang didapatkan dari teori-teori dan satu indikator bisa terdiri dari satu pernyataan bisa juga lebih. Contohnya, variabel sikap orang tua, kita cari pendekatan-pendekatan yang bisa digunakan untuk mengukur sikap orang tua tersebut. Contoh pertama, ada teori yang menyatakan, sikap orang tua terbagi sikap demokratis, otoriter, dan permisif. Dari teori tersebut, kita bisa jadikan indikator untuk menyusun pernyataan. Kita buat daftar pernyataan yang mengarah ke sikap demokratis, otoriter, dan permisif. Contoh kedua,variabel komunikasi. Dalam penelitian kita, kita inginkan komunikasi yang efektif. Jadi kita harus mencari teori yang menyatakan komunikasi efektif itu bagaimana, ciri-ciri komunikasi efektif, atau apa aja yang menentukan komunikasi menjadi efektif. Teori-teori tersebut yang nantinya digunakan untuk membuat pernyataan. Berbagai pendekatan bisa kita gunakan asalkan jelas teorinya.

Skala ini mempunyai tingkatan pilihan jawaban dari yang positif hingga negatif, maksud positif dan negatif, skor yang nanti didapatkan dari pernyataan-pernyataan tersebut, bernilai dari yang terbesar hingga terkecil. Pernyataan yang positif akan bernilai semakin besar sedangkan pernyataan yang negatif akan bernilai kecil. Contoh pernyataan yang positif, sangat setuju mempunyai skor 5, setuju 4, ragu-ragu 3, kurang setuju 2, tidak setuju 1. Sedangkan pernyataan yang negatif sebaliknya. Menentukan positif dan negatif suatu pernyataan tergantung dari tujuan penelitian kita, apa yang ingin kita dapatkan dari kuesioner tersebut.  Banyaknya jawaban dari pernyataan tergantung peneliti (pembuat kuesioner), yang pasti jika hanya 2 pilihan jawaban, artinya skalanya menjadi skala guttman. Pada umumnya, skala likert dibuat dengan 5 pernyataan, akan tetapi tidak jarang juga yang menggunakan 4 pernyataan atau lebih dari 5 pernyataan. Semua ada kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Misalkan kita bingung antara 4 atau 5 pernyataan, jika kita ingin mengarahkan responden ke jawaban yang pasti dan fokus ke penelitian, sebaiknya menggunakan 4 pernyataan. Dan jika kita ingin semua terserah responden tetapi tidak terlalu menyudutkan responden dengan banyak pilihan, sebaiknya 5 pernyataan. Tetapi perlu diinget dengan 5 pernyataan, jika responden tidak mengerti dengan pernyataan yang ada atau ingin menutupi keadaan sebenarnya, kecenderungan akan menjawab ragu-ragu atau netral akan semakin besar. Hal ini akan membuat fokus dari penelitian ini sulit tercapai dan hasilnya kurang akurat jika sebagian besar menjawab netral.

Membuat daftar pernyataan dengan skala likert diusahakan mewakili setiap indikator yang ada dari tiap variabel dan diusahakan lebih dari satu pernyataan setiap indikatornya. Hal ini berkaitan dengan uji validitas dan reliabilitas, dimana uji validitas dan reliabilitas ini cenderung akan membuang pernyataan-pernyataan yang kurang mewakili indikator-indikator yang ada. Jika memenuhi syarat validitas dan reliabilitas, maka kuesioner tersebut layak untuk digunakan.

Apa yang kita lakukan setelah kuesioner terisi???
Setelah melakukan pencacahan atau dengan kata lain kuesionernya terisi. Kita bisa mendapatkan skor-skor dari skala likert. Data yang dihasilkan berupa data interval sehingga cocok untuk analisis lanjutan yang membutuhkan skala data minimal interval. Analisis diskriminan, analisis faktor, path analysis bisa langsung menggunakan skor-skor yang dihasilkan dari pernyataan-pernyataan per variabelnya untuk menganalisisnya. Sedangkan untuk analisis yang menggunakan skala data ordinal, skor-skor tersebut bisa dikategorikan dengan berbagai cara misalkan menggunakan ukuran pemusatan atau dispersi. Pengkategorian variabel ini berguna juga untuk penyajian data bersifat deskriptif. Misalkan, variabel komunikasi mempunyai 10 pernyataan dan setiap pernyataan mempunyai skor masing-masing. Dari skor-skor tersebut kita cari median/mean/standard deviasi/ kuartilnya. Jika kita ingin membagi variabel komunikasi menjadi 2 kategori, kita gunakan mean/median tergantung normal tidaknya data. Dan jika ingin lebih dari 2 kategori, bisa gunakan standard deviasi ataupun kuartil.

Semoga bermanfaat, terutama bagi yang ingin membuat kuesioner dengan skala likert.

Senin, 20 Februari 2012

Kuesioner Sebagai Ujung Tombak Survei


Arti Dari Kuesioner
Kuesioner, saya sebelum mengenal statistik, masih terasa asing begitu mendengar kata-kata ini, membayangkannya pun masih samar-samar. Kuesioner lebih dikenal publik dengan nama Angket. Pertama, saya akan menjelaskan dengan ringkas mengenai kuesioner. Pada dasarnya kuesioner sebagai salah satu alat instrumen penelitian merupakan sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diteliti atau disebut responden. Menurut Arikunto (2006), “kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahuinya”. Jika kita dalam mengumpulkan data menggunakan kuesioner, artinya kita menggunakan data primer. Sebelumnya udah pada tahu belum beda data primer dan data sekunder? Data primer itu data yang langsung dikumpulkan dari lapangan, jadi berupa data mentah yang nanti kita olah sendiri, sedangkan data sekunder itu data yang didapatkan dari “tangan lain” atau pihak lain yang mengumpulkannya, misalkan data ekspor impor yang didapatkan dari kantor bea cukai. Data sekunder bisa berupa data mentah ataupun data yang udah diolah.

Menurut Singarimbun dan Effendi (1989), tujuan menggunakan kuesioner adalah untuk memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian (survei) dan memperoleh informasi dengan validitas dan reliabilitas setinggi mungkin. Arti dari validitas dalam kuesioner adalah sejauh mana ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya, ilustrasinya, penggaris yah digunakan untuk mengukur panjang dalam satuan tertentu, bukan untuk mengukur berat ataupun volume. Sedangkan reliabilitas adalah sejauhnya mana alat ukur dapat dipercaya dan diandalkan, ilustrasinya, penggaris jika mengukur sesuatu, walaupun berbeda tempat, waktu, tetap akan memberikan hasil yang sama, konsisten. Penjelasan lebih lengkap bisa dilihat di buku “Metode Penelitian Survei” karya Singarimbun dan Effendi atau “Prosedur Penelitian” karya Arikunto, kayak promosi buku neh, hehe. Mungkin di lain kesempatan, saya akan jelaskan mengenai validitas dan reliabilitas serta penghitungannya dengan SPSS.
Tata cara pengisian kuesioner bisa ”self enumeration”, yang artinya diisi oleh responden itu sendiri, bisa juga ditanyakan oleh kita (petugas survei ato penelitian). Jenis kuesioner ada yang terbuka dan ada yang tertutup. Kuesioner terbuka jika jawaban dari pertanyaan yang ada terserah oleh responden, hal ini akan mengakibatkan jawaban yang beragam sehingga agak sulit dalam pengkodean dan pengelompokannya. Akibat lainnya adalah fokus dari penelitian bisa saja tidak tercapai jika jawaban responden tidak sesuai dengan yang kita (peneliti) inginkan. Sedangkan kuesioner tertutup jika pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner telah ada pilihan jawabannya, jadi jawabannya telah ditentukan oleh peneliti. Hal ini dilakukan karena peneliti ingin fokus jawaban dari responden yang telah sesuai dengan kerangka pikir dari penelitian tersebut. Akan tetapi, kuesioner tertutup ini menutup kemungkinan jawaban yang ekstrem, yang berada diluar pikiran peneliti padahal ada kemungkinan jawaban tersebut berpengaruh terhadap tujuan penelitian.

Bagaimana menyusun daftar pertanyaan?
Ibaratkan buah, yang dijelaskan diatas adalah kulit luarnya, sekarang kita akan mengelupas hingga daging buahnya kelihatan :) . Isi dari kuesioner itu tidaklah asal, maksudnya, daftar pertanyaan yang dibuat tidak sesuka kita, berpikiran yang penting sesuai dengan penelitian kita. Walaupun harus sesuai dengan tujuan kita dan kita sendiri yang membuatnya, kita harus menyusunnya berdasarkan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan teori. Cara mudahnya, kita bentuk tabel kisi-kisi instrumen, tabel ini terdiri dari kolom variabel, indikator, dan butir pertanyaan/pernyataan. Satu indikator bisa berupa satu pertanyaan, bisa juga terdiri dari beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang ada bisa untuk mendapatkan data kuantitatif seperti pertanyaan mengenai jumlah anggota rumah tangga, dan bisa untuk mendapatkan data kualitatif seperti menanyakan keluhan kesehatan selama satu bulan terakhir yang jawabannya antara ya dan tidak.  

Kuantitatif vs kualitatif
Seperti yang kita ketahui, data kualitatif tidak bisa diolah, bagaimana caranya memasukkan “ya” atau “tidak” ke dalam excel dan spss, terus kita run, error bukan? Jadi, data kualitatif tersebut harus kita kuantitatifkan agar bisa diolah. Ada banyak cara untuk mengkuantitatifkan data kualitatif, misalkan dengan menggunakan pengukuran skala yang biasanya dilakukan dalam penelitian sosial. Skala tersebut bermacam-macam, ada skala likert, skala guttman, rating skala, skala diferensial semantik, skala thurstone dan sebagainya. Dalam menentukan skala pun ada berbagai persyaratan, misalnya data tersebut apakah harus ordinal, interval, rasio ataupun nominal. Selain dengan pengukuran skala, bisa juga dengan teori-teori yang sudah ada, misalkan untuk mengukur Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, pilihan jawabannya telah tersedia berdasarkan teori yang merupakan hasil kerjasama antara BPS dan Depkes.

Kuesioner yang baik bagaimana?
Kuesioner yang baik itu singkat, padat, dan jelas. Singkat maksudnya, daftar pertanyaannya tidak terlalu bertele-tele, panjang tapi tidak berarti, dan mengulang-ngulang pertanyaan yang tidak sama tetapi mempunyai inti yang sama. hal ini diusahakan untuk dihindari. Padat dalam kuesioner berarti sesuai dengan tujuan dari penelitian dan telah diuji validitas serta reliabilitas. Sedangkan jelas maksudnya tidak ambigu, satu pertanyaan bisa mempunyai arti yang berbeda jika dilihat dari berbagai sudut pandang. Ini terkait dengan tata bahasa yang digunakan. Pertanyaan-pertanyaan yang ada harus sejelas mungkin, sehingga jawaban dari responden bisa sesuai dengan yang kita inginkan. Pikiran kita disampaikan melalui pertanyaan, seakan-akan kita yang menanyakan langsung dan menjelaskannya.

Tidak lupa semua konsep dan definisi yang ada dalam kuesioner disesuaikan dengan apa yang kita inginkan berdasarkan tujuan penelitian kita. Biasanya dituangkan dalam buku pedoman, agar setiap variabel mempunyai konsep yang sama. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kesalahan dalam penafsiran pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam kuesioner. dengan adanya konsep dan definisi yang jelas, diharapkan dapat memperkecil kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. Selain konsep dan definisi, panduan dalam menggunakan kuesioner juga perlu dibuat sejelas mungkin. Khusus dalam penyusunan penelitian berupa skripsi atau semacamnya, konsep dan definisi dari variabel-variabel yang kita gunakan dalam penelitian diterapkan didalam definisi operasional.  

Melihat betapa pentingnya kuesioner dalam sebuah penelitian atau survei, maka kita jika melakukan penelitian (jika memakai data primer), harus mengetahui segala hal mengenai kuesioner. ini terkait dengan hasil dari penelitian kita yang mungkin bisa berguna bagi umum.

Penyusunan kuesioner tidaklah mudah jika baru pertama mengerjakan karena harus mencari teori-teori yang sesuai dengan penelitian dan akan dijadikan dasar dalam menentukan pertanyaan. Semoga bermanfaat :) .

Minggu, 19 Februari 2012

Sakit di usia tua adalah hasil tanam di usia muda


Momok Yang Menakutkan

Tentu Kita Pernah Mendengar yang namanya penyakit jantung, stroke, kanker dan diabetes. Penyakit-penyakit ini masih menjadi momok yang menakutkan bagi para pengidapnya. Penyakit-penyakit ini pula yang yang menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia, khusus negara kita, Indonesia, penyakit jantung menjadi penyakit yang sering ditemui. Berbagai stigma negatif yang kita pikirkan begitu mendengar kata-kata yang berkaitan dengan penyakit ini. Ada yang berpikiran jika terindikasi beresiko penyakit jantung, stroke, diabetes ataupun kanker, ini merupakan musibah besar. Hal itu memang tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya benar, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Dengan terindikasi resiko terkena penyakit ini, kita bisa mencegah agar tidak terakumulasi tingkat keparahannya dan bisa mencegah timbulnya penyakit-penyakit lainnya. 


Penyakit Jantung dan Stroke
Saya akan menulis secara singkat dan sederhana tetapi tidak secara medis mengenai penyakit jantung dan stroke. Saya hanya mengemukakan pemikiran-pemikiran yang ada berdasarkan referensi-referensi yang saya baca dan dari pengalaman.
Penyakit jantung dan stroke ini sejenis tapi tidak sama, sederhananya adalah, kedua penyakit ini dikategorikan penyakit Kardiovaskular, sama-sama menyerang pembuluh darah , tetapi tujuan serangannya berbeda. Penyakit jantung yang diserang adalah jantung, dan stroke yang diserang adalah saraf-saraf, biasanya otak. Kabar buruk jika mengidap kedua penyakit ini adalah sewaktu-waktu tanpa kita sadari, kita bisa langsung terkena dampak dari penyakit ini tanpa menunjukkan gejala terlebih dahulu (silent killer), tapi biasanya itu karena ada pemicunya, misalkan pikiran yang stress atau konsumsi makanan pantangan kedua penyakit ini. Kabar baiknya, kedua penyakit ini bisa dicegah dan dikendalikan. Tidak hanya penyakit jantung dan stroke, diabetes dan kanker pun bisa dicegah dan dikendalikan.

Apa Penyebab Penyakit Jantung dan Stroke?
Penyakit jantung dan stroke disebabkan oleh aterosklerosis (penumpukan lemak) pada dinding arteri pembuluh darah yang mensuplai jantung dan otak. kumpulan lemak yang bertumpuk menyebabkan terbentuknya plak yang lama kelamaan akan membesar dan menebal sehingga mempersempit arteri dan menghambat aliran darah. Akhirnya pembuluh darah akan mengeras dan bersifat kurang lentur. Teman-teman pasti bisa membayangkan bagaimana akibatnya jika pasokan darah ke otak dan jantung terhenti. Selain itu, darah juga bertugas membawa oksigen untuk jantung dan otak, dimana oksigen ini sangat penting bagi jantung dan otak.
Gangguan kardiovaskular yang disebabkan aterosklerosis dikaitkan dengan berkurangnya aliran darah karena jantung dan otak tidak menerima suplai darah yang cukup. Hambatan aliran darah selanjutnya dapat berakibat pada penyakit kardiovaskular yang lebih serius termasuk serangan jantung dan stroke. Adanya sumbatan darah juga dapat menyebabkan terjadinya robekan jaringan di arteri yang kemudian akan membengkak dan dapat menghambat seluruh pembuluh darah sehingga mengakibatkan serangan jantung atau stroke.
Ilustrasi sederhananya, pembuluh darah merupakan selang air dan air yang mengalir adalah darah kita yang mengalir, kita sumbat jalur keluarnya air, apa yang akan terjadi? Terlebih lagi jika dinding selang itu telah mengeras kaku seperti es dan tidak lentur? mudah pecah bukan? Hal itulah yang akan terjadi pada pembuluh darah kita jika terjadi penyumbatan, dan peristiwa pecahnya pembuluh darah ini yang dinamakan stroke. Ada kemungkinan juga pembuluh darah kita tidak pecah, tetapi jika terjadi penumpukan lemak dalam darah, aliran darah ke otak dan jantung akan berkurang sehingga otak dan jantung kita akan kekurangan oksigen, bisa bayangkan bagaimana kita didalam air, menyelam dan saat kehabisan napas, kita tidak mendapatkan oksigen yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia.

Faktor Resiko
Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan seseorang beresiko terhadap penyakit kardiovaskular. Faktor resiko ini dibagi menjadi dua, yang dapat dikendalikan dan yang tidak dapat dikendalikan. 80 persen penyakit jantung dan stroke disebabkan oleh faktor resiko yang dapat dikendalikan. Faktor resiko yang dapat dikendalikan meliputi kadar kolesterol darah yang tinggi (hiperkolesterolemia), tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes mellitus, obesitas, dan gaya hidup (kurang gerak, merokok, konsumsi alkohol berlebihan). Dari semua faktor resiko tersebut, kolesterol, hipertensi, diabetes, dan obesitas berhubungan erat dengan pola makan. Sementara faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan meliputi usia, jenis kelamin, dan riwayat penyakit kardiovaskular dalam keluarga.
Faktanya, sekitar 75 persen penyakit kardiovaskular di seluruh dunia disebabkan oleh faktor resiko yang dapat dikendalikan, yaitu pola makan yang tidak baik, kurang aktivitas fisik, dan gaya hidup (merokok dan alkohol). Sementara di negara maju, sepertiga penyakit kardiovaskular disebabkan lima faktor resiko yakni tembakau, alkohol, tekanan darah tinggi, kolesterol, dan obesitas (NaturIndonesia.com).
Sakit di usia tua adalah hasil tanam di usia muda
Yak, sekarang baru inti dari tulisan ini, saya menjelaskan apa penyakit jantung dan stroke serta sebab dan akibatnya terlebih dahulu agar para pembaca mengerti betapa berbahayanya penyakit ini dan betapa pentingnya kesehatan kita. Seiring perkembangan jaman, penyakit ini pun makin modern, tidak hanya usia tua yang sering ditemui mengidap penyakit ini, tetapi juga usia muda bisa terindikasi terkena penyakit jantung dan stroke, walaupun tidak sebanyak jumlah pasien di usia tua. Akan tetapi, jika diperhatikan dengan seksama, kenapa mereka yang berada di usia tua terkena penyakit ini? Apa penimbunan lemak dalam darah (kolesterol) tiba-tiba terjadi tanpa ada prosesnya? Apa pembuluh darah begitu memasuki usia tua langsung membeku seketika? Tentu tidak, semua ada prosesnya, proses itu butuh waktu yang lama dan pada umumnya dimulai saat usia muda, seperti mau nikah, ada yang namanya proses PDKT dan pacaran (gak nyambung, haha :p) .

Berkaca dari pengalaman saya melihat gaya hidup penduduk usia muda, ada pemikiran yang sudah menjadi patokan, usia muda saatnya bersenang-senang. Saya juga setuju dengan pemikiran tersebut, tetapi kita harus membuat batasan sendiri dan saya akui, pada saat usia muda itu, sangat susah menaati batasan walaupun kita sendiri yang membuat, tapi setidaknya kita berusaha :).

Dimulai dari yang paling banyak diremehkan oleh anak muda, yaitu pola makan, sekarang ini anak muda masih sering konsumsi makanan-makanan yang memicu penyakit jantung, stroke, diabetes dan kanker.  Makan hanya memikirkan rasa dan perut sangat berbahaya buat kedepan nantinya, tidak jarang anak muda yang setiap mau mengkonsumsi makanan, melihat dampak negatif dan kandungan dari makanan tersebut. Jika kebiasaan ini tetap terjaga dalam waktu yang lama walaupun semuda apapun dia, suatu saat, pasti akan memanen yang ditanamnya di usia muda. Tapi, tetap diingat, yang terpenting itu bukan menghentikan, tetapi membatasi, karena setiap makanan pasti ada manfaatnya, asal tidak dikonsumsi berlebihan. “Perut Karet” pun jadi masalah bagi sejumlah anak muda, hal ini bisa diantisipasi dengan banyak mengkonsumsi makanan sehat yang mengandung antioksidan dan omega3, karena antioksidan sangat baik bagi kesehatan jantung, pembuluh darah dan merupakan pencegah bagi penyakit-penyakit tersebut. Makanan yang menjadi makanan sehat dan makanan pemicu-pemicu penyakit tersebut bisa dilihat di buku-buku tentang kesehatan atau situs-situs kesehatan yang bertebaran di dunia maya.

Selain masalah pola makan, gaya hidup pun merupakan faktor resiko yang masih diremehkan oleh anak muda. Misalkan aktifitas fisik yang jarang. Hal ini akan membuat otot-otot jantung dan pembuluh darah kita tidak terlatih. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa, aktifitas fisik dapat membuat kita capek dan badan terasa pegal-pegal, hal ini memang benar jika baru pertama dan jarang melakukannya, akan tetapi jika sudah menjadi kebiasaan, aktifitas fisik akan membuat tubuh kita lebih segar, membuang racun-racun dari tubuh kita (dari makanan, rokok, alkohol), merelaksasikan pembuluh darah dan memperbaiki mood. Aktifitas fisik tidak harus selalu olahraga, berjalan dan peregangan pun sudah cukup asal dilakukan teratur dan rutin. Masalah rokok dan konsumsi alkohol yang berlebihan pun tidak terlepas dari gaya hidup anak muda.

Dan masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan di usia muda yang akan berdampak terhadap usia tua kita nantinya. Oleh karena itu, kita harus mulai memikirkan bagaimana mau mengakhiri hidup kita nanti (becanda, hehe). Penyakit-penyakit ini lebih baik dicegah daripada diobati, selain menderita, masalah biaya yang besar pun tidak lepas dari penyakit ini. Terkadang pun penyakit ini disebut penyakit “orang kaya”. Dengan menanam yang baik-baik di usia muda, maka panen di usia tua pun akan baik juga. Kehidupan ini merupakan rahasia Tuhan, kita setidaknya berusaha menjaganya walaupun tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Jika dalam tulisan ini ada pengetahuan medis yang masih kurang, mohon maaf karena ini hanya berdasarkan analisis dari buku, referensi yang saya baca dan pengalaman melihat fenomena yang terjadi. Semoga bermanfaat bagi kita semua, ayo hidup sehat demi masa depan yang sehat :D.



Perhitungan IPM


Perhitungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)         
Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan-tulisan sebelumnya, “apa itu IPM?” dan “lika liku IPM”, jadi ibarat sebuah film bersambung, tulisan ini merupakan trilogy dari film yang berjudul besar “IPM” :p .
Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas mengenai perhitungan IPM dan komponen-komponen penyusunnya. Setelah disuguhkan dengan materi dan teori mengenai IPM dan komponen-komponen penyusunnya, tentu kurang lengkap jika tidak disertai teknik perhitungannya. Hal ini berkaitan dengan aplikasi langsung terhadap data, terlebih lagi bagi para statistisi yang akan terjun langsung ke lapangan, saya yakin tulisan ini akan berguna nantinya :D.

Saya akan menjelaskan perhitungannya dari secara umum ke khusus agar pembaca lebih mudah mengertinya. Pertama mengenai perhitungan IPM. Nilai IPM dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Indeks X(i,j)     = Indeks komponen IPM ke-i untuk wilayah ke j;
 i                      = 1, 2, 3;
 j                      = 1, 2 ……. k wilayah.
 
i berjumlah 3 dikarenakan komponen penyusun IPM berjumlah 3 dimensi seperti yang telah saya jelaskan di tulisan sebelumnya. Hasil indeks bernilai antara 0 dan 1. Indeks tersebut dapat dinyatakan dalam ratusan (dikalikan 100) untuk mempermudah penafsiran. 

Sebagai ilustrasi sederhana, suatu negara bernama Lagrange diketahui mempunyai indeks dimensi umur panjang dan sehat sebesar X1 , indeks dimensi pengetahuan sebesar X2 , dan indeks dimensi standar hidup layak sebesar X3 . Indeks tunggal ini dibentuk per dimensi agar dapat membentuk indeks komposit dan nantinya akan dikenal dengan sebutan IPM.  Untuk mendapatkan nilai IPM dari negara Lagrange, maka IPM Lagrange adalah


hasilnya akan mempunyai arti jika IPM negara Lagrange dibandingkan dengan IPM negara lainnya atau melihat perkembangan IPM negara Lagrange dari tahun ke tahun.  

Tentu pembahasan perhitungan IPM ini belum selesai walau hasil akhirnya telah didapat karena kita belum mengetahui bagaimana perhitungan mendapatkan indeks tunggal tiap dimensi nya. Ilustrasi diatas diasumsikan semua indeks per dimensi telah diketahui nilainya sehingga bisa langsung memasukkan nilai-nilai indeks per dimensi ke dalam rumus indeks komposit.

Berikut adalah gambaran perhitungan IPM dari awal hingga mendapatkan nilai IPM.
 
Setiap dimensi untuk mendapatkan nilai indeksnya menggunakan rumus berikut :


X(i,j)                 = Komponen IPM ke-i dari daerah j
X(i-min)              = Nilai minimum dari Xi           
X(i-maks)             = Nilai maksimum dari Xi


Nilai minimum dan maksimum yang digunakan dalam penghitungan IPM bisa dilihat di tabel yang telah disediakan. Nilai e0, AMH, dan rata-rata lama sekolah merujuk pada nilai yang telah ditetapkan UNDP (1994), sehingga nilai indeks untuk masing-masing komponen tersebut dapat dibandingkan secara internasional. Sementara nilai minimum dan maksimum standar hidup layak menyesuaikan kondisi Indonesia.
 
 
Dimensi umur panjang dan sehat (X1)
Untuk mendapatkan indikator Angka Harapan Hidup pada saat lahir atau disingkat AHH, kita harus mengetahui jumlah Anak Lahir Hidup (ALH) dan Anak Masih Hidup (AMH), sumber data nya dari data susenas. Langkah selanjutnya setelah kita mendapatkan ALH dan AMH adalah mencari AHH dengan menggunakan software MORTPAK.
Misalkan AHH wilayah patsembilan telah didapatkan sebesar 72,45, dimasukkan ke dalam rumus indeks sehingga Indeks X1 patsembilan =




Jika ingin mudah intepretasinya maka dikalikan 100 sehingga hasilnya 79.


Dimensi pengetahuan (X2)
Dimensi ini terbagi 2 indikator, yaitu indikator angka melek huruf (X21)dan rata-rata lama sekolah (X22). Nilai dari kedua indikator tersebut bisa diperoleh dari data susenas. Langkah awal yang harus kita lakukan adalah mencari indeks masing-masing indikator dengan menggunakan rumus Indeks


seperti yang telah dicontohkan di dimensi umur panjang dan sehat.
Setelah mendapatkan nilai indeks indikatornya, kita akan menghitung indeks pengetahuan dari rata-rata tertimbang kedua indeks tersebut tersebut agar dapat digunakan sebagai satu nilai indeks tunggal untuk menyusun nilai IPM. Rumus yang digunakan adalah
dimana penimbang dari indikator angka melek huruf adalah 2/3 dan penimbang rata-rata lama sekolah adalah 1/3.
 
Dimensi kemampuan daya beli (X3)
Untuk dimensi ini yang dibutuhkan adalah data rata-rata pengeluaran per kapita riil yang disesuaikan dengan formula Atkinson. Data ini yang digunakan oleh BPS, sedangkan yang digunakan oleh UNDP adalah Produk Domestik Bruto (PDB) riil yang disesuaikan. Sehingga wajar jika nilai IPM yang dihasilkan BPS dan UNDP berbeda.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1)     Menghitung angka rata-rata pengeluaran per kapita per tahun dengan menggunakan data Susenas.
2)    Menghitung nilai pengeluaran riil (harga konstan) dengan membagi rata-rata pengeluaran dengan Indeks Harga Konsumen (IHK). Tahapan ini bertujuan agar Purchasing Power Parity (PPP) dapat dibandingkan antartahun.
3) Penghitungan PPP (unit), semacam faktor pengali, dengan tujuan untuk menghilangkan pengaruh perbedaan harga antarprovinsi.
4)  Menghitung nilai PPP dalam rupiah dengan cara membagi pengeluaran per tahun dalam harga konstan dengan PPP per unit.
5)    Menghitung penyesuaian PPP (rupiah) dengan formula Atkinson

Setelah mendapat nilainya, hitunglah indeks dari pengeluaran per kapita riil yang disesuaikan dengan rumus indeks

Finishing touch
Setelah semua indeks tunggal dari setiap dimensi didapatkan, kita hitung indeks komposit yang nantinya kita sebut IPM. Cara perhitungannya seperti yang telah dijelaskan pada awal tulisan. Apakah sudah selesai? Yak, hasil akhir sudah didapatkan dan cara perhitungannya pun telah dijelaskan, akan tetapi jika kita ingin mendalami lagi mengenai perhitungan IPM, kita bisa mengukur kecepatan perkembangan IPM dalam suatu kurun waktu atau dinamakan Reduksi shortfall , hal ini sangat bermanfaat agar kita bisa melihat bagaimana perkembangan IPM suatu wilayah dari waktu ke waktu sehingga kita bisa bertindak efektif dan bijak dalam mengambil keputusan. Penjelasan mengenai Reduksi shortfall akan dijelaskan di tulisan berikutnya, semoga tulisan mengenai perhitungan IPM ini bermanfaat buat kita semua :) .

Sabtu, 18 Februari 2012

Lika Liku IPM


Lika Liku IPM
Pada tulisan sebelumnya telah dibahas mengenai apa itu Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan pada tulisan ini akan membahas mengenai seluk beluk IPM atau bisa dikatakan kita lakukan analisis mendalam terhadap IPM. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, IPM terdiri dari tiga dimensi, yaitu dimensi longevity (umur panjang dan sehat), dimensi knowledge (pengetahuan), dan dimensi decent living standard (standar hidup layak). Antardimensi saling terkait satu sama lain, tidak berdiri secara tunggal, itulah keunikan dari nilai IPM itu sendiri. 

Nilai IPM tentu tidak tergantung pada satu dimensi saja, melainkan berbagai variabel yang tercakup dalam ketiga dimensi penyusun nilai IPM. Sebagai contoh, Kita misalkan nilai IPM Indonesia pada tahun 2009 sebesar 71,76 (BPS, 2010). Seperti yang telah dijelaskan di tulisan sebelumnya, nilai IPM pada tahun 2009, tidak mempunyai arti jika berdiri secara tunggal, tapi lain halnya jika dibandingkan dengan nilai IPM pada tahun atau wilayah lainny. Sebagai perbandingan, kita bandingkan dengan tahun 2008, nilai IPM Indonesia sebesar 71,17 (BPS, 2010). Data ini menunjukkan adanya peningkatan nilai IPM Indonesia dari tahun 2008 ke tahun 2009, sehingga bisa dikatakan perkembangan pembangunan manusia di tahun 2009 lebih baik dibanding tahun 2008 walaupun peningkatan yang terjadi tidak secara signifikan berbeda jauh.

Apa cukup sampai disitu intepretasi nilai IPM??? Tentu tidak!!
Untuk mengetahui kenapa nilai IPM bisa berubah mengalami peningkatan? Kenapa IPM tidak terlalu berbeda jauh nilainya padahal pemerintah telah berupaya meningkatkan pembangunan manusia? Apa dengan hasil dan intepretasi singkat mengenai perbandingan nilai IPM tersebut sudah bisa dijadikan pertimbangan untuk mengambil kebijakan? Untuk menjawab semua pertanyaan itu, kita harus lakukan analisis mendalam terhadap IPM. 

Nilai IPM bisa berubah karena adanya perubahan satu atau lebih dimensi penyusun IPM, bisa saja karena dimensi longevity ataupun dimensi lainnya, jadi kita tidak sertamerta menjudge IPM tahun 2009 naik karena peningkatan satu dimensi saja. Bisa saja, salah satu dimensi (contoh: knowledge) IPM pada tahun 2009 lebih besar jauh dibanding dimensi (knowledge) IPM tahun 2008, dan dimensi yang lain (longevity) di tahun 2009 lebih kecil tetapi tidak terlalu berbeda jauh dibanding dimensi (longevity) tahun 2008, sehingga jika dimasukkan dalam perhitungan rumus indeks komposit, nilai IPM 2009 lebih besar dibanding nilai IPM 2008. Belum lagi dimensi-dimensi tersebut terdiri dari berbagai indikator dan variabel sehingga ada pengaruh secara tidak langsung dari faktor-faktor yang terkait dengan dimensi-dimensi tersebut. Jika diibaratkan rumus, IPM ini merupakan rumus yang kompleks yang tidak akan bisa didapatkan hasil yang terbaik jika salah satu rumus dihilangkan. 

IPM tahun 2009 naik dari IPM tahun 2008 dikarenakan nilai Angka Harapan Hidup (AHH), Angka Melek Huruf (AMH), Rata-Rata Lama Sekolah, dan Kemampuan Daya Beli masyarakat pada tahun 2009 lebih besar dari tahun 2008 (Indeks Pembangunan Manusia 2008-2009; BPS; 2010). Jadi bisa disimpulkan, kesehatan masyarakat, pendidikan, dan ekonomi masyarakat mengalami perbaikan dari tahun 2008 ke tahun 2009. Hal ini tidak lepas dari kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Jika kita ingin melihat bagian mana yang bisa diambil pertimbangan untuk menetapkan kebijakan, kita ambil contoh dimensi decent living standard (standar hidup layak), dimensi ini bisa memberikan pengaruh yang signifikan terhadap nilai IPM dalam waktu singkat, tidak seperti dimensi knowledge dan dimensi longevity yang membutuhkan waktu relatif lama agar terlihat hasil dari upaya yang dilakukan. Sehingga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan akan berdampak terhadap peningkatan nilai IPM, perlu adanya kenaikan pendapatan yang diperoleh sehingga kemampuan daya beli meningkat juga. Itu merupakan contoh singkat dari manfaat nilai IPM. Akan lebih terlihat hasil yang dicapai dari nilai IPM jika komponen-komponen penyusunnya ditelaah lebih dalam lagi dan mengkaitkan dengan berbagai faktor yang ada.
Penjelasan mengenai rumus dan teknik penghitungannya akan dijelaskan lebih lanjut, semoga bermanfaat :)  .

Jumat, 17 Februari 2012

Apa Itu IPM?


Apa itu IPM??
Sudahkah Anda mengenal dengan yang namanya Indeks Pembangunan Manusia atau lebih dikenal dengan singkatan IPM, nama kerennya Human Development Indeks (HDI). Sebagai akademisi, Tentu kita pernah mendengarnya waluapun samar-samar, terlebih lagi yang aktif membaca Koran dan mengamati perkembangan negara tercinta kita ini. Tulisan ini akan menjelaskan secara singkat definisi dari IPM.  

Jaman sekarang ini jika ingin menilai “sesuatu” tidak bisa berdasarkan pengamatan secara kasat mata ataupun feeling, penilaian harus berdasarkan data yang ada, data tersebut tidaklah asal, data harus berasal dari fakta di lapangan sehingga bisa menggambarkan fenomena yang terjadi. Untuk itulah suatu ukuran harus ada agar bisa menilai atau menggambarkan fenomena yang terjadi secara ringkas dan jelas. Ukuran tersebut bisa berupa rate, rasio, indeks ataupun ukuran statistik lainnya.  Ukuran tersebut bisa berupa satu variabel ataupun lebih, contohnya sex ratio untuk satu variabel dan IPM untuk beberapa variabel. 

Kembali ke pokok bahasan mengenai IPM. Suatu negara akan dinilai maju atau berkembang bisa dilihat dari berbagai ukuran, salah satunya nilai IPM negara tersebut. Negara yang berkembang otomatis berhasil dalam pembangunannya, dimana tujuan akhir dalam pembangunan suatu negara adalah manusia, menciptakan lingkungan yang memungkinkan rakyat menikmati umur panjang, sehat, dan menjalankan kehidupan yang produktif (UNDP, BPS dan Bappenas; Laporan Pembangunan Manusia; 2004). Sedangkan menurut BPS (2010), Keberhasilan pembangunan manusia dapat dilihat dari seberapa besar permasalahan mendasar masyarakat dapat teratasi. Permasalahan-permasalahan tersebut meliputi kemiskinan, pengangguran, gizi buruk, dan buta huruf. 

Menilik dari berbagai permasalahan yang ada, maka Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan sebuah ukuran pembangunan manusia agar dapat membandingkan perkembangan antarwilayah ataupun antarnegara berdasarkan faktor-faktor yang terkait dalam ukuran IPM.  IPM diperkenalkan oleh UNDP pada tahun 1990. IPM menjadi ukuran penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia yang terkait dengan pendapatan, kesehatan, dan pendidikan. Selain itu, data IPM digunakan sebagai salah satu komponen dasar dalam penyusunan Dana Alokasi Umum (DAU), selain jumlah penduduk, luas wilayah, PDRB per-kapita dan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) (BPS, 2010). Dan seperti yang kita ketahui, apa saja peranan penting dari DAU untuk setiap wilayah. Oleh karena itu, nilai dari IPM itu sendiri mempunyai banyak arti. Dalam dunia statistik, sebuah angka mempunyai banyak makna dan menentukan hajat hidup orang banyak. 

Bagaimana Mendapatkan Nilai IPM???
Untuk mendapatkan nilai IPM tidak bisa berdasarkan satu variabel saja, karena IPM tersebut terdiri dari berbagai variabel-variabel yang diharapkan dapat merepresentasikan fenomena-fenomena yang ada. Nilai IPM didapatkan dengan berbagai rumus indeks yang ada (penjelasan men). Komponen IPM terdiri dari dimensi longevity (umur panjang dan sehat) yang didapatkan dari indikator Angka Harapan Hidup (AHH), dimana untuk mendapatkan AHH diperlukan variabel Anak Lahir Hidup (ALH) dan Anak Masih Hidup (AMH), dimensi knowledge (pengetahuan) yang didapatkan dari indikator Angka Melek Huruf dan Rata-Rata Lama Sekolah, dan dimensi decent living standard (standar hidup layak) yang didapatkan dari indikator kemampuan daya beli atau bisa dikatakan ukuran pendapatan yang sudah disesuaikan dengan paritas daya beli (Purchasing Power Parity).

Apa IPM mutlak sebagai ukuran pembangunan manusia???
Walaupun IPM telah ditentukan oleh PBB sebagai ukuran standar pembangunan manusia dan cocok untuk diterapkan di berbagai negara, bukan berarti IPM sangat bagus dan tidak ada keterbatasan. IPM pun layaknya seorang manusia yang tidak sempurna, memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu dibalik berbagai manfaat yang bisa kita lihat dari nilai IPM. 

IPM sebagai indeks komposit, tidak memiliki arti tersendiri jika secara tunggal, nilai IPM akan bermakna jika dibandingkan dengan nilai IPM wilayah yang lain. Selain itu, IPM terdiri dari komponen-komponen penyusun yang jika dijabarkan analisisnya, akan mencakup ruang lingkup yang luas. Untuk itu harus dilakukan analisis mendalam dan menyeluruh terhadap komponen-kompenen penyusun IPM agar dapat mengintepretasikan nilai IPM dengan baik, dan mengetahui analisis sebab akibat yang bisa didapatkan dari nilai IPM itu sendiri. 

Contohnya, dimensi longevity, indikator AHH yang dibutuhkan dalam dimensi ini jika ditelusuri lebih dalam lagi akan berkaitan terhadap faktor-faktor sosial ekonomi lainnya. AHH berkaitan dengan ALH dan AMH yang bisa menjadi ukuran kesehatan ibu dan anak, dimana kesehatan ibu dan anak bisa menjadi tolak ukur kesehatan dari penduduk. Hal ini tidak lepas dari angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI). Selain itu, AHH berhubungan erat dengan tingkat kematian, dan tingkat kematian berhubungan dengan kemiskinan, pendidikan, ketersediaan pangan, status gizi, ekonomi, lingkungan, gaya hidup dan faktor-faktor lainnya. Dengan analisis yang mendalam, tentu kebijakan-kebijakan yang diharapkan untuk membangun suatu wilayah dapat ditentukan dengan baik. Untuk analisis mendalam mengenai IPM dan komponen-komponen penyusunnya akan dijelaskan lebih lanjut di tulisan berikutnya. Semoga tulisan ringkas mengenai IPM ini dapat bermanfaat buat kita semua :) .